Thursday, January 21, 2016

Andai kamu tahu yang disebut "pelayan masyarakat" itu...

Menjadi seorang dokter tentunya salah satu pekerjaan yang fokus pada pelayanan. Ya, seorang dokter dituntut untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pasien secara profesional. Tentunya tak jarang dalam melakukan pelayanan kesehatan tersebut seorang dokter sering sekali mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan.

Contohnya hari ini. Tadi pagi saya baru saja berdebat hebat dengan salah satu oknum "pelindung masyarakat". Hal ini dikarenakan saya ingin merujuk Bapak tersebut dikarenakan luka jahitannya kelihatannya terinfeksi dan jahitan masih belum menutup. Sebenarnya banyak faktor yang menentukan cepat sembuh atau tidaknya jahitan. Hal ini meliputi sistem imun pasien, kemampuan regenerasi sel dari pasien, perawatan luka pasien, asupan gizi pasien, dan yang tak kalah penting kepatuhan pasien. Dan bukan saya orang yang menjahit pasien tersebut. FYI saya baru hari ini bertemu pasien tersebut karena sebelumnya pasien tersebut dijahit oleh perawat dibawah supervisi salah seorang rekan dokter yang lain. Singkat cerita ketika saya menyampaikan pada pasien tersebut bahwa harus dirujuk ke dokter spesialis bedah, pasien tersebut marah dan mengatakan bahwa pihak tempat saya bekerja tidak becus dan bahkan mengatakan kami melempar tanggung jawab. Saya coba menjelaskan baik-baik namun pasien tersebut masih menyangkal. Hingga saya pun harus meninggikan suara saya agar pasien tersebut bisa paham. Itu pun masih juga disambut dengan kearoganan pasien tersebut.

Sebenarnya apa yang saya lakukan semata-mata hanyalah demi kebaikan pasien, dan tidak ada keuntungan apa-apa bagi saya bila pasien tersebut mendengarkan atau tidak saran dari saya. Sayangnya sebagian "oknum" terlalu angkuh untuk menerima dan terlalu sombong untuk mendengarkan. Itu baru salah satu contoh masalah yang dihadapi seorang dokter di lapangan.

Contoh lainnya yang paling sering terjadi adalah mengenai sistem rujukan BPJS. Seperti yang kita tahu sekarang hampir seluruh rakyat indonesia telah menjadi peserta BPJS Kesehatan. Dimana BPJS melaksanakan perogram rujukan berjenjang sehingga faskes pertama hanya bisa merujuk ke RS tipe C. Kemudian RS tipe C merujuk pada RS tipe D, dst. Nah dengan sistem ini maka faskes pertama diwajibkan untuk menangani 155 diagnosis dan diagnosis tersebut tidak boleh dirujuk ke faskes tingkat dua, dst.

Sayangnya banyak masyarakat yang masih tidak paham dengan sistem rujukan tersebut. Bahkan ketika datang ke puskesmas/faskes pertama langsung minta rujuk. Tanpa ba bi bu saat datang langsung bilang, "dok saya mau minta rujukan ke spesialis A, B, C". Tidak jarang sang pasien pun tidak tau apa yang dikeluhkan, apa penyakitnya, bahkan sering sekali pula pasien yang bersangkutan malah tidak dibawa. Nah disini lagi lagi dokter yang bersangkutan harus sabar dan menjelaskan prosedur perujukan BPJS kepada pasien. Bahwa tidak semua penyakit boleh dirujuk, banyak penyakit yang masih dapat ditangani di faskes pertama, bagaimana prosedur perujukan, bahkan sampai menjelaskan tidak bisa merujuk pasien yang tidak dibawa karena bagaimana dokter bisa menentukan diagnosisnya?

Itu hanya sedikit contoh dari beberapa permasalahan yang sering dihadapi dokter di lapangan. Masih banyak sekali permasalahan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Pernah tidak ada yang berpikir bahwa apakah petugas yang memberikan pelayanan sudah makan? Apakah petugas tersebut sedang ada masalah? Apakah petugas tersebut sedang kelelahan setelah shift panjang dan jaga malam? Dll. Nah, petugas kesehatan juga manusia biasa kan? Jadi ada baiknya kita sama-sama saling menghargai baik sebagai pasien ataupun sebagai petugas kesehatan yang memberikan pelayanan agar dapat tercapai pelayanan secara optimal dan pasien yang bersangkutan pun merasakan manfaat dari pelayanan tersebut, bukan malah menjudge, sok tau, dan bahkan berlaku kasar yang ujungnya hanya akan merugikan semua pihak.

No comments:

Post a Comment