Hari itu malam mulai turun, waktu menunjukan pukul 18.10 WIB menandakan sudah masuk waktu Magrib. Saya berada di sebuah becak dalam perjalanan pulang dari sekolah. Saya pulang magrib hampir setiap hari dikarenakan siswa kelas dua di sekolah saya jadwal masuknya adalah siang hari dan baru pulang saat sore hari. Jarak tempuh sekolah dan rumah saya terbilang cukup jauh karena saya harus berjalan kaki dahulu untuk mencari angkot, kemudian disambung dengan naik angkot kira-kira sejam dan diakhiri dengan menaiki becak untuk sampai ke rumah saya. Karena itulah saya sering sekali pulang menjelang magrib atau saat magrib baru sampai di rumah.
Dengan seragam putih biru yang sudah mulai lusuh itu pun saya meneruskan perjalanan di atas becak. Kanan kiri perumahan sangat gelap karena masih banyak persawahan. Suara jangkrik dan serangga pun bersautan. Udara dingin dan menusuk. Sampai akhirnya becak mulai melintasi area perumahan yang berderet-deret saling berseberangan. Rumah saya cukup jauh karena terletak di blok paling ujung.
Tak lama sampailah becak yang saya naiki di rumah saya. Rumah paling kiri di tepi jalan utama. Suasana sekitar agak remang-remang karena memang penerangan sedikit di sekitar lingkungan kompleks perumahan saat itu. Terlihat sesosok pria berbadan cukup besar menggunakan kaos oblong dan sarung. Sosok tersebut membukakan pagar rumah dengan cekatan ketika melihat saya tiba. Sambil saya membayar uang ongkos becak, sosok tersebut menanyakan apakah uangnya cukup atau tidak. Saya bilang cukup. Setelah membayar saya bergegas masuk ke rumah dan menghampiri sosok tersebut.
Sosok tersebut tak lain dan tak bukan adalah Bapak saya. Saya segera mencium tangannya. Kami jarang berbicara panjang lebar tapi setiap melihat atau bersama dengan Bapak saya rasanya perasaan terasa hangat, rasanya aman bersama dengannya. Saya rindu dengan sosoknya yang tegas. Sosoknya yang hangat, walaupun kadang agak tempramental. Bapak saya orang yang supel dan pandai bergaul dengan orang lain. Saya pun baru menyadari betapa banyak kawan, rekan, dan saudara Bapak saya saat Bapak meninggal dunia sekitar 13 tahun yang lalu. Begitu banyak pelayat baik rekan ataupun handai taulan yang datang dari segala tempat.
Pa, kami semua merindukan Papa, tapi Allah lebih sayang dengan Papa. Semoga Papa diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin.
No comments:
Post a Comment