Sunday, December 25, 2016

A Journey To The East Part 2

Hari itu hari minggu subuh-subuh selepas saya sholat subuh saya berangkat menuju bandara Raden Inten II Provinsi Lampung dengan menggunakan mobil travel. Pesawat yang saya tumpangi berangkat pukul 6.45 jadi saya berangkat pagi sekali agar tidak ketinggalan pesawat. Sebelum berangkat saya sempat menghubungi mbak Priska dan mbak Ani. Mbak Ani membalas bahwa dia sudah dalam perjalanan menuju bandara, sedangkan mbak Priska tidak ada respon. Bahkan sms saya belum terkirim.

Saya sampai di bandara sekitar pukul 05.30 WIB dan bergegas menuju antrean untuk check in. Walaupun masih pagi ternyata bandara cukup ramai hari itu sehingga antrean cukup panjang. Tak lama saat saya mengantre mbak Ani datang dan segera saya panggil agar menuju tempat saya mengantre. Saya menanyakan kabar mbak Priska ke mbak Ani dan mbak Ani bilang bahwa mbak Priska sudah dalam perjalanan ke bandara.

Setelah kami check in dan menunggu di ruang boarding mbak Priska belum juga datang. Kami mulai khawatir karena penumpang sudah dipanggil masuk ke dalam pesawat. Sambil menuju pesawat kami berusaha menghubungi mbak Priska beberapa kali namun handphone nya tidak juga di angkat. Saat di dalam pesawat kami coba untuk menghubungi lagi akhirnya di angkat dan mbak Priska bilang bahwa dia sudah dekat dengan bandara. Saya dan mbak Ani benar-benar dag dig dug saat itu sepertinya tidak akan terkejar, duh drama banget. Saya sampai sudah berpikir worst case ya saya cuma berdua mbak Ani berangkat ke Makassar atau nanti mbak Priska menyusul penerbangan terdekat tapi kalau dilihat dari ramainya penumpang rasanya hampir tidak mungkin ada tiket yang tersisa. Tepat saat detik-detik pengecekan terakhir sebelum pintu pesawat ditutup masuklah seorang wanita ke cabin pesawat, mbak Priska. Spontan saya dan mbak Ani memanggilnya ke arah tempat kami duduk. Luar biasa benar-benar drama hampir saja ketinggalan pesawat. Akhirnya personel kami lengkap dan kami bersiap-siap terbang menuju Jakarta dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Makassar. Bismillahirrahmaanirrahiim...

Tuesday, December 20, 2016

Takdir

Siapa yang bisa melawan takdir? Saya? Kamu? Mereka? Tidak ada yang bisa. Siapa yang tau apa yang terjadi 10 tahun lagi? Lusa? Besok? Satu jam kemudian? Bahkan 1 menit kemudian? Tidak ada. Hidup ini penuh misteri. Ada hal-hal yang bahkan sudah ditentukan bagi kita jauh sebelum ruh kita ditiupkan ke dunia di antaranya adalah jodoh dan kematian. Kadang walaupun kita sudah sekuat tenaga mengusahakan sesuatu tetapi bila sesuatu itu bukan untuk kita maka tidak akan pernah jadi milik kita. Sebaliknya bila sesuatu itu memang milik kita ada saja keadaan yang membawa kita untuk mendapatkannya. Takdir? Apakah takdir masih bisa berubah? Apakah yang dapat mengubah takdir? Hanya doalah yang dapat mengubah takdir. Wallahualam...