Saturday, January 23, 2016

That warm feeling...

Hari itu malam mulai turun, waktu menunjukan pukul 18.10 WIB menandakan sudah masuk waktu Magrib. Saya berada di sebuah becak dalam perjalanan pulang dari sekolah. Saya pulang magrib hampir setiap hari dikarenakan siswa kelas dua di sekolah saya jadwal masuknya adalah siang hari dan baru pulang saat sore hari. Jarak tempuh sekolah dan rumah saya terbilang cukup jauh karena saya harus berjalan kaki dahulu untuk mencari angkot, kemudian disambung dengan naik angkot kira-kira sejam dan diakhiri dengan menaiki becak untuk sampai ke rumah saya. Karena itulah saya sering sekali pulang menjelang magrib atau saat magrib baru sampai di rumah.

Dengan seragam putih biru yang sudah mulai lusuh itu pun saya meneruskan perjalanan di atas becak. Kanan kiri perumahan sangat gelap karena masih banyak persawahan. Suara jangkrik dan serangga pun bersautan. Udara dingin dan menusuk. Sampai akhirnya becak mulai melintasi area perumahan yang berderet-deret saling berseberangan. Rumah saya cukup jauh karena terletak di blok paling ujung.

Tak lama sampailah becak yang saya naiki di rumah saya. Rumah paling kiri di tepi jalan utama. Suasana sekitar agak remang-remang karena memang penerangan sedikit di sekitar lingkungan kompleks perumahan saat itu. Terlihat sesosok pria berbadan cukup besar menggunakan kaos oblong dan sarung. Sosok tersebut membukakan pagar rumah dengan cekatan ketika melihat saya tiba. Sambil saya membayar uang ongkos becak, sosok tersebut menanyakan apakah uangnya cukup atau tidak. Saya bilang cukup. Setelah membayar saya bergegas masuk ke rumah dan menghampiri sosok tersebut.

Sosok tersebut tak lain dan tak bukan adalah Bapak saya. Saya segera mencium tangannya. Kami jarang berbicara panjang lebar tapi setiap melihat atau bersama dengan Bapak saya rasanya perasaan terasa hangat, rasanya aman bersama dengannya. Saya rindu dengan sosoknya yang tegas. Sosoknya yang hangat, walaupun kadang agak tempramental. Bapak saya orang yang supel dan pandai bergaul dengan orang lain. Saya pun baru menyadari betapa banyak kawan, rekan, dan saudara Bapak saya saat Bapak meninggal dunia sekitar 13 tahun yang lalu. Begitu banyak pelayat baik rekan ataupun handai taulan yang datang dari segala tempat.

Pa, kami semua merindukan Papa, tapi Allah lebih sayang dengan Papa. Semoga Papa diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin.

Thursday, January 21, 2016

Andai kamu tahu yang disebut "pelayan masyarakat" itu...

Menjadi seorang dokter tentunya salah satu pekerjaan yang fokus pada pelayanan. Ya, seorang dokter dituntut untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pasien secara profesional. Tentunya tak jarang dalam melakukan pelayanan kesehatan tersebut seorang dokter sering sekali mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan.

Contohnya hari ini. Tadi pagi saya baru saja berdebat hebat dengan salah satu oknum "pelindung masyarakat". Hal ini dikarenakan saya ingin merujuk Bapak tersebut dikarenakan luka jahitannya kelihatannya terinfeksi dan jahitan masih belum menutup. Sebenarnya banyak faktor yang menentukan cepat sembuh atau tidaknya jahitan. Hal ini meliputi sistem imun pasien, kemampuan regenerasi sel dari pasien, perawatan luka pasien, asupan gizi pasien, dan yang tak kalah penting kepatuhan pasien. Dan bukan saya orang yang menjahit pasien tersebut. FYI saya baru hari ini bertemu pasien tersebut karena sebelumnya pasien tersebut dijahit oleh perawat dibawah supervisi salah seorang rekan dokter yang lain. Singkat cerita ketika saya menyampaikan pada pasien tersebut bahwa harus dirujuk ke dokter spesialis bedah, pasien tersebut marah dan mengatakan bahwa pihak tempat saya bekerja tidak becus dan bahkan mengatakan kami melempar tanggung jawab. Saya coba menjelaskan baik-baik namun pasien tersebut masih menyangkal. Hingga saya pun harus meninggikan suara saya agar pasien tersebut bisa paham. Itu pun masih juga disambut dengan kearoganan pasien tersebut.

Sebenarnya apa yang saya lakukan semata-mata hanyalah demi kebaikan pasien, dan tidak ada keuntungan apa-apa bagi saya bila pasien tersebut mendengarkan atau tidak saran dari saya. Sayangnya sebagian "oknum" terlalu angkuh untuk menerima dan terlalu sombong untuk mendengarkan. Itu baru salah satu contoh masalah yang dihadapi seorang dokter di lapangan.

Contoh lainnya yang paling sering terjadi adalah mengenai sistem rujukan BPJS. Seperti yang kita tahu sekarang hampir seluruh rakyat indonesia telah menjadi peserta BPJS Kesehatan. Dimana BPJS melaksanakan perogram rujukan berjenjang sehingga faskes pertama hanya bisa merujuk ke RS tipe C. Kemudian RS tipe C merujuk pada RS tipe D, dst. Nah dengan sistem ini maka faskes pertama diwajibkan untuk menangani 155 diagnosis dan diagnosis tersebut tidak boleh dirujuk ke faskes tingkat dua, dst.

Sayangnya banyak masyarakat yang masih tidak paham dengan sistem rujukan tersebut. Bahkan ketika datang ke puskesmas/faskes pertama langsung minta rujuk. Tanpa ba bi bu saat datang langsung bilang, "dok saya mau minta rujukan ke spesialis A, B, C". Tidak jarang sang pasien pun tidak tau apa yang dikeluhkan, apa penyakitnya, bahkan sering sekali pula pasien yang bersangkutan malah tidak dibawa. Nah disini lagi lagi dokter yang bersangkutan harus sabar dan menjelaskan prosedur perujukan BPJS kepada pasien. Bahwa tidak semua penyakit boleh dirujuk, banyak penyakit yang masih dapat ditangani di faskes pertama, bagaimana prosedur perujukan, bahkan sampai menjelaskan tidak bisa merujuk pasien yang tidak dibawa karena bagaimana dokter bisa menentukan diagnosisnya?

Itu hanya sedikit contoh dari beberapa permasalahan yang sering dihadapi dokter di lapangan. Masih banyak sekali permasalahan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Pernah tidak ada yang berpikir bahwa apakah petugas yang memberikan pelayanan sudah makan? Apakah petugas tersebut sedang ada masalah? Apakah petugas tersebut sedang kelelahan setelah shift panjang dan jaga malam? Dll. Nah, petugas kesehatan juga manusia biasa kan? Jadi ada baiknya kita sama-sama saling menghargai baik sebagai pasien ataupun sebagai petugas kesehatan yang memberikan pelayanan agar dapat tercapai pelayanan secara optimal dan pasien yang bersangkutan pun merasakan manfaat dari pelayanan tersebut, bukan malah menjudge, sok tau, dan bahkan berlaku kasar yang ujungnya hanya akan merugikan semua pihak.