Sunday, November 2, 2014

Pernikahan

Hari masih sangat pagi, saya berada dalam sebuah lift di sebuah gedung. Saya mengenakan setelan kemeja putih lengan panjang dan celana panjang berwarna hitam. Lengkap dengan sepatu pantopel hitam mengkilat yang baru saja disemir. Ya, tampilan saya persis seperti... Mahasiswa baru yang sedang propti. Akhirnya pintu lift terbuka, saya bergegas keluar menuju ke sebuah lorong dan berbelok ke arah kanan di ujungnya. Sampa sana saya melihat begitu banyak orang yang sedang hiruk pikuk, sekilas saya melihat sebuah gaun pengantin berwarna keemasan, saya bertanya ini pernikahan siapa ya?

Saya lanjutkan berjalan memasuki sebuah kamar. Di kamar itu saya melihat deretan jas bergantung dan siap untuk dipilih. Ada seseorang yang tiba-tiba menghampiri saya dan meminta saya untuk segera memilih salah satu jas karena diburu waktu. Saya berfikir ini jas untuk apa? Dan mengapa saya diburu-buru begini? Saya akhirnya memilih salah satu jas berwarna hitam pekat dan mengenakannya. Saya segera disuruh turun dan menaiki mobil.

Sebuah mobil sedan hitam menghampiri saya di depan lobby gedung tersebut, saya pun menaikinya. Saya masih bingung saya mau dibawa kemana? Akhirnya saya sampai di sebuah masjid yang cukup megah. Di sana saya disambut keluarga saya. Beberapa teman saya menghampiri saya, mereka menyalami saya. Salah seorang berkata bahwa pengantin wanitanya akan segera tiba. Saya bertanya siapa yang menikah hari ini? Mereka bilang sayalah yang akan menikah hari ini. Saya kaget, saya menikah? Dengan siapa? Mereka bilang tunggu saja sebentar lagi calon isteri saya tiba. Di antara mereka saya mengenali seseorang saya bertanya mengapa pakaiannya berbeda seperti hendak ke kantor? Dia bilang dia tidak bisa hadir di pernikahan saya karena dia ada urusan di kantor. Saya meminta dia tetap datang tapi dia tidak bisa. Akhirnya dia pun pergi dari situ.

Tak lama kerumunan orang menunjuk ke arah gerbang Masjid. Sebuah mobil sedan masuk bersama iringan mobil lain. Saya nerveous, saya bertanya siapa gerangan yang ada di dalam? Tak lama mobil pun berhenti d depan masjid. Pintu terbuka, dan dari pintu belakang tampak kaki sebelah kiri wanita dengan heels berwarna emas.

"tit tit tit tit" Suara alarm berbunyi menbangunkan saya. Ternyata sudah pukul 05.00 WIB. Keadaan di kamar masih gelap karena listrik masih padam. Saya terdiam benar-benar mimpi yang aneh. Saya pun bergegas untuk mengambil air wudhu untuk sholat subuh.

Monday, October 27, 2014

Pemerintahan Baru Indonesia

Tanggal 20 Oktober 2014 kemarin Joko Widodo dan M, Jusuf Kalla resmi dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia ke tujuh. Dan pada tanggal 26 Oktober 2014 sebanyak 34 orang menteri yang akan membantu presiden pun diumumkan. Banyak nama-nama yang sudah tak asing tapi banyak juga nama-nama yang mungkin baru didengar (atau saya dengar tepatnya). Menteri-menteri saat ini banyak yang berasal dari kalangan profesional dan pelaku usaha, bahkan saya dengar ada sekitar lima orang menteri yang sebelumnya merupakan CEO perusahaan terkemuka. Cukup berbeda dengan kabinet-kabinet sebelumnya. Tanggapan masyarakat? tentu pro dan kontra. Karena masyarakat menilai beberapa menteri tidak pantas memegang jabatan tersebut. Tapi menurut saya pribadi semua ini tentu setelah melewati proses berfikir yang cukup panjang dari Presiden dan Wakil Presiden, lagi pula kita belum melihat bagaimana kinerjanya bukan? Lebih baik kita sekarang mendukung program yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah sambil terus memantau kinerja Pemerintah. Semoga saja Pemerintahan Indonesia yang baru bisa berjalan dengan baik dan dapat menjalankan tugasnya dengan baik sehingga segala tujuan yang diharapkan untuk Indonesia ke depannya dapat tercapai. Amiin,

Tuesday, October 21, 2014

Sepenggal Cerita Pelatihan ACLS Saya

Ceritanya saya dan beberapa teman saya yang sudah menyelesaikan program internsip tgl 26-28 September 2014 kemarin baru saja mengikuti Advanced Cardiac Life Support (ACLS) course di Jakarta. Ini ada kursus bantuan hidup resusitasi jantung dan paru untuk pasien yang mengalami henti jantung. Kursus ini sekarang menjadi semakin penting untuk diikuti oleh semua dokter umum. Karena angka kejadian henti jantung cukup tinggi dan kami sebagai dokter umum merupakan lini terdepan yang sering kali mendapatkan pasien dengan kondisi seperti ini khususnya saat berjaga di IGD atau bangsal.

Perjalanan kami mulai tanggal 25 September 2014 pagi dengan naik Bus DAMRI Bandar Lampung - Jakarta. Saya berangkat bersama Ponda, Hanny, Uun, April, Musay, Mbak Zelta, Mbak Melati, dan Mbak Kuwut. Kami berangkat pukul 08.00 WIB dan tiba di Jakarta Sekitar Pukul 16.30 WIB. Perjalanan terbilang cukup cepat dan lancar bahkan kami mendapatkan kapal Ferry KMP Virgo 18 buatan Jepang yang terbilang cukup bagus dan bersih saat penyebrangan dari pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan Merak tadi.

Sekitar pukul 18.00 WIB kami sampai di tempat kami menginap. Kami menginap di Toba Residence di daerah Bendungan Hilir. Kebetulan cukup dekat dengan PERKI House tempat kami akan mengikuti pelatihan besok dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Di penginapan kami bertemu dengan empat orang teman yang lain, Indri, Arlen, Kak Niji, dan Kak Ika. Malam itu pun kami beristirahat dan belajar sebisanya untuk mengikuti pelatihan besok. Karena pelatihan akan berjalan cukup lama dab melelahkan. Sebagai informasi buku pelatihan yang sudah kami dapatkan harus sudah kami lahap dan khatamkan sejak sebelum pelatihan, karena saat pelatihan dimulai akan ada pretest dan ada batas nilai lulus minimal.

Esoknya kami pun menjalani pelatihan hari pertama. Kami semua dibagi menjadi dua, sebagian dari kami di lantai 2, dan sebagian lagi di lantai 3. Saya kebetulan dapat di lantai 3. Sempat ada perasaan sedikit tenang karena dokter penguji yang terkenal cukup "killer" ada di lantai 2. Hari itu pun kami mengikuti latihan hari pertama sebagian berisi materi dan sesekali diselangi dengan praktik. Pelatihan hari pertama selesai sekitar pukul 18.00 WIB. Saya dan teman-teman kembali ke penginapan setelah sebelumnya kami mencari makan malam terlebih dahulu. Sedangkan teman-teman kami yang berada di lantai 2 belum pulang karena masih latihan. Wah, sepertinya memang benar bahwa lantai 2 lebih berat.

Keesokan harinya saat pelatihan hari ketiga setelah mengikuti sisa materi maka kami semua pun dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk megacode. Megacode ini semacam simulasi dari seluruh pelatihan kami dalam bentuk praktik. Betapa kagetnya saya bahwa sebenarnya tidak hanya di lantai 2 yang berat tetapi di lantai 3 pun ada pelatih yang terkenal "killer". Saya baru mengetahuinya dari salah seorang teman yang berasal dari FK UKI. Saat pembagian kelompok ditempel saya pun kaget karena saya berada di kelompok pelatih yang terkenal killer itu. Pasrah, stress, grogi bercampur menjadi satu. Tak jarang kami kadang mendapatkan teguran bernada keras dari pelatih tersebut. Saya pun sempat beberapa kali melakukan kesalahan karena grogi. Dan hari itu keadaan berbalik dari apa yang terjadi kemarin. Untuk hari ini kelompok saya yang pulangnya malam, malah teman-teman di lantai 2 sudah pulang dari jam 7 malam sedangkan kami masih latihan sendiri hinggal pukul 9 malam. Malam itu saya stress sekali karena besok kami harus menghadapi ujian praktik, bila ada satu saja step yang salah maka bisa dipastikan tidak akan lulus. Ditambah rasa lelah dan kantuk yang sangat namun masih harus menghapalkan algoritma yang cukup banyak. Saya belajar semampunya sampai dikalahkan oleh rasa kantuk.

Akhirnya kami tiba pada hari penentuan, hari ujian. Masing-masing dari kami akan diuji satu persatu sebagai kapten. Kami akan diberikan kasus dan kasus tersebut bisa berubah sesuai keinginan sang penguji selama ujian praktik. Kami diharuskan untuk melakukan apa saja tahapan yang harus dilakukan dengan benar sesuai algoritma yang sudah kami hapalkan kemarin. Suasana sangat tegang sebagian orang disuruh menunggu dulu di luar karena melakukan kesalahan. Saya pun semakin grogi. Yang berhasil lulus dalam satu kali percobaan hanya 5 orang sedangkan sisanya harus mengulang kesempatan kedua, termasuk saya. Kesempatan kedua ini adalah yang terakhir bila masih ada kesalahan maka tidak akan lulus. Saya grogi, saya coba menenangkan diri sebisa saya. Teman-teman dari FK Atmajaya memberi saran pada saya bahwa kuncinya adalah tenang, berbicara dengan lambat sambil berpikir. Memang tadi saya agak grasak grusuk karena grogi. Akhirnya satu persatu pun kami dipanggil ke dalam untuk kesempatan kedua, satu persatu berhasil menyelesaikan dengan lancar ujian yang diberikan. Sampai tiba pada giliran saya, saya berusaha melakukan semua dengan tenang, berbicara dengan lambat sambil berpikir, dan alhamdulillah saya berhasil menyelesaikan semua ujian yang diberikan. Sayang salah seorang teman saya tidak berhasil menyelesaikan ujian dan terancam tidak lulus.

Setelah itu kami dikumpulkan di ruangan kembali. Acara penutupan pelatihan sekaligus pembagian map. Bila lulus maka isi map berwarna cokelat itu adalah sertifikat, sedangkan bila tidak lulus maka isinya adalah surat pemberitahuan untuk mengulang. Sampai akhirnya nama saya dipanggil, saya penasaran membuka isi map saya, saya intip sedikit dan alhamdulillah sertifikat!! Betapa lega dan bersyukurnya saya karena lelah dan letih selama ini terbayar sudah. Namun sayang salah seorang teman saya tidak lulus. Saya tau sebenarnya dia pintar mungkin karena grogi saja dan sedang tidak beruntung. Terima kasih kepada seluruh pelatih dari PERKI atas segala ilmu yang telah diberikan. Semoga kami dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Aamiin.

Friday, August 22, 2014

Akhir dari Internsip Dokter

Ceritanya saya baru saja menyelesaikan program internsip dokter saya. Apa itu internsip? Magang? Sebenarnya internsip dokter ini adalah kegiatan wajib dari kemenkes pada dokter yang baru lulus sebelum mereka mendapatkan surat tanda registrasi (STR). Kurang lebih maksudnya adalah pemantapan, dibilang belum mantap sebenernya tidak juga. Dibilang magang juga tidak pas. Sehingga diserap ke bahasa Indonesia menjadi internsip tanpa "H" karena sampai sekarang pun definisinya masih rancu.

Saya mendapatkan lokasi internsip di Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Sejujurnya tempat ini memang sudah terkenal keras, namun kami tak punya pilihan karena satu-satunya wahana yang dibuka pada saat itu hanya ini di Provinsi Lampung. Saya dan teman-teman saya berjumlah 17 orang. Kami semua dibagi menjadi tiga kelompok kecil yang nantinya akan disebar ke tiga tempat; bangsal, ugd, dan puskesmas.

Begitu banyak kejadian yang kami alami di kabupaten ini, mulai dari dokter spesialis dan dokter umum yang masih sering tertukar antara apa itu internsip dan apa itu koass, keluarga pasien yang mengamuk dan tak jarang kami merasa terancam secara mental dan alhamdulillah tidak sampai ke tindakan fisik, hingga berbagai permasalahan teknis di sana sini yang tidak bisa saya jelaskan satu persatu di sini. Tapi alhamdulillah, kami bertujuh belas bisa melaluinya dengan baik.

Tidak semuanya kejadian buruk yang kami alami disini, tentunya banyak juga hal positif yang dapat kami ambil. Kami mendapatkan banyak sekali ilmu dari para dokter spesialis dan dokter umum disini, kami juga semakin percaya diri dalam menghadapi pasien dan menatalaksana sebuah penyakit, tak lupa mental kami juga sedikit banyak juga terasah. Selain itu kami merasa diterima dengan cukup baik oleh seluruh pihak rumah sakit dan puskesmas. Dan yang tak kalah penting adalah bapak bupati kabupaten ini menerima kami dengan sangat baik dan melepas kami saat kami selesai internsip, tak lupa beliau juga memberikan insentif yang cukup berguna dalam menyokong hidup kami di sini hehe.

Tanggal 20 kemarin akhirnya kegiatan internsip kami selama setahun berakhir. Saya dan teman-teman kembali ke daerah asal masing-masing. Sungguh bukan merupakan hal yang mudah, kebersamaan selama tujuh tahun sejak saat kuliah kini akan berakhir. Masing-masing dari kami harus kembali ke daerah asal untuk meraih cita-cita kami masing-masing. Terima kasih teman-teman atas semua hal baik, buruk, senang, sedih yang telah kita alami bersama. Semoga kita semua bisa berhasil dan sukses dalam meraih cita-cita kita. Perpisahan memang selalu tidak pernah mudah. Selalu.