Another Me
Blog ini berisi segala hal yang berhubungan dengan saya;kisah hidup saya, pemikiran-pemikiran saya, hobi-hobi saya, pokoknya apapun tentang saya. Ya iyalah blog-blog saya? Jadi suka-suka saya dong?? :p
Friday, April 28, 2017
Dahsyatnya Doa
Saya pun baru-baru ini kembali merasakan kekuatan akan doa. Beberapa kesempatan orang tua saya dan beberapa rekan-rekan saya pergi ke Baitullah. Tak lupa saya selalu menitipkan doa kepada mereka. Kurang lebih 3 doa ini yang belakangan rajin saya titipkan kepada rekan-rekan saya yang melaksanakan ibadah haji atau umrah. Pertama adalah doa agar diberikan jodoh yang sholehah dan baik (LOL), kedua adalah agar dimudahkan dan dilancarkan niatan saya untuk melanjutkan sekolah, dan yang ketiga adalah agar diberikan kesehatan jasmani dan rohani. Tentunya saya juga tak lupa untuk selalu berdoa dan meminta doa kepada ibunda saya tentunya dibarengi dengan ikhtiar.
Ajaib saat ini satu persatu doa yang dipanjatkan mulai menjadi kenyataan. Begitu dahsyatnya kekuatan sebuah doa. Seandainya kita percaya dan yakin Allah SWT akan mengabulkannya, dan seandainya memang doa yang kita panjatkan adalah untuk kebaikan. Wallahualam...
Sunday, December 25, 2016
A Journey To The East Part 2
Hari itu hari minggu subuh-subuh selepas saya sholat subuh saya berangkat menuju bandara Raden Inten II Provinsi Lampung dengan menggunakan mobil travel. Pesawat yang saya tumpangi berangkat pukul 6.45 jadi saya berangkat pagi sekali agar tidak ketinggalan pesawat. Sebelum berangkat saya sempat menghubungi mbak Priska dan mbak Ani. Mbak Ani membalas bahwa dia sudah dalam perjalanan menuju bandara, sedangkan mbak Priska tidak ada respon. Bahkan sms saya belum terkirim.
Saya sampai di bandara sekitar pukul 05.30 WIB dan bergegas menuju antrean untuk check in. Walaupun masih pagi ternyata bandara cukup ramai hari itu sehingga antrean cukup panjang. Tak lama saat saya mengantre mbak Ani datang dan segera saya panggil agar menuju tempat saya mengantre. Saya menanyakan kabar mbak Priska ke mbak Ani dan mbak Ani bilang bahwa mbak Priska sudah dalam perjalanan ke bandara.
Setelah kami check in dan menunggu di ruang boarding mbak Priska belum juga datang. Kami mulai khawatir karena penumpang sudah dipanggil masuk ke dalam pesawat. Sambil menuju pesawat kami berusaha menghubungi mbak Priska beberapa kali namun handphone nya tidak juga di angkat. Saat di dalam pesawat kami coba untuk menghubungi lagi akhirnya di angkat dan mbak Priska bilang bahwa dia sudah dekat dengan bandara. Saya dan mbak Ani benar-benar dag dig dug saat itu sepertinya tidak akan terkejar, duh drama banget. Saya sampai sudah berpikir worst case ya saya cuma berdua mbak Ani berangkat ke Makassar atau nanti mbak Priska menyusul penerbangan terdekat tapi kalau dilihat dari ramainya penumpang rasanya hampir tidak mungkin ada tiket yang tersisa. Tepat saat detik-detik pengecekan terakhir sebelum pintu pesawat ditutup masuklah seorang wanita ke cabin pesawat, mbak Priska. Spontan saya dan mbak Ani memanggilnya ke arah tempat kami duduk. Luar biasa benar-benar drama hampir saja ketinggalan pesawat. Akhirnya personel kami lengkap dan kami bersiap-siap terbang menuju Jakarta dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Makassar. Bismillahirrahmaanirrahiim...
Tuesday, December 20, 2016
Takdir
Siapa yang bisa melawan takdir? Saya? Kamu? Mereka? Tidak ada yang bisa. Siapa yang tau apa yang terjadi 10 tahun lagi? Lusa? Besok? Satu jam kemudian? Bahkan 1 menit kemudian? Tidak ada. Hidup ini penuh misteri. Ada hal-hal yang bahkan sudah ditentukan bagi kita jauh sebelum ruh kita ditiupkan ke dunia di antaranya adalah jodoh dan kematian. Kadang walaupun kita sudah sekuat tenaga mengusahakan sesuatu tetapi bila sesuatu itu bukan untuk kita maka tidak akan pernah jadi milik kita. Sebaliknya bila sesuatu itu memang milik kita ada saja keadaan yang membawa kita untuk mendapatkannya. Takdir? Apakah takdir masih bisa berubah? Apakah yang dapat mengubah takdir? Hanya doalah yang dapat mengubah takdir. Wallahualam...
Sunday, September 25, 2016
A Journey To The East Part 1
Baru-baru ini saya melakukan perjalanan ke Timur. Timur nya Indonesia, Makassar. Sejujurnya saya belum pernah menjejakan kaki sebelumnya ke bagian Timur Indonesia, jadi baru kali inilah saya ke sana untuk pertama kali.
Semuanya bermula dari niat saya untuk mengikuti acara Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak ke-VIII, yang ternyata pada tahun ini diselenggarakan oleh IDAI cabang Makassar dan Universitas Hasanuddin. Sebenarnya saya sempat ragu awalnya karena tentunya biayanya tidak murah dan lokasinya cukup jauh. Tapi demi cita-cita (halah) maka saya bela-belain berangkat juga walaupun harus mempersiapkan ini dan itu.
Drama nya tidak hanya berhenti di kegalauan itu saja. Saya kebingungan mencari teman buat pergi bareng. Karena bagaimana juga punya teman untuk menjelajahi tempat yang jauh dan baru selalu menyenangkan, daripada berakhir dengan bengang bengong kayak sapi ompong, hehe. Si A, si B, si C sampe si Z saya tanya hasilnya nihil. Awalnya si A mau but unfortunately karena si A baru menikah dan tiba-tiba si A "ngisi" maka si A tidak jadi berangkat. Lalu ada si B yang dari awal memang terlihat galau dan ragu-ragu untuk berangkat. Saya pun menyerah buat merayu si B karena si B ga punya pegangan hidup kayaknya. Akhirnya saya pun hopeless dan bersiap untuk worst case, berangkat sendiri, alone.
Dua bulan sebelum acara saya pun sudah membayar lunas acara dan mulai mencari tiket pesawat, booking penginapan, dll. Sekali-kali browsing dan nonton youtube sekedar biar tau apa sih makassar dan kemana saja objek wisata disana. Supaya waktu yang dihabiskan disana efektif dan efisien hehe. Semuanya siap dan saya tinggal menunggu waktu keberangkatan.
Sampai pada suatu hari dewi fortuna pun berpihak kepada saya. Saya ditugaskan untuk mengikuti pertemuan diare oleh dinas kabupaten di hotel Novotel Bandar Lampung yang diselenggarakan oleh dinas kesehatan provinsi. Di sana saya bertemu dengan kakak tingkat saya, mbak Priska. Singkat cerita kami ngobrol dan akhirnya saya pun menawarkan dia untuk ikut acara PIT IKA tersebut. Dia kelihatan tertarik dan berjanji akan mengabarkan bila jadi. Beberapa hari kemudian akhirnya dia mengabarkan bahwa dia jadi berangkat dan membawa seorang temannya yang juga kakak tingkat saya yaitu mbak Ani. Akhirnya lengkap sudah formasi tim kami. Kami bertiga akan berangkat ke Makassar :D. to be continued...
Sunday, August 21, 2016
Pain
Pain. Pain is a sign that our bodies show when there's something wrong with our organ system. When you get cut, kicked, punched, or even burned you will feel pain. Because the sensory nerves transmit the signal to the brain and the brain interprete it as a "pain".
Same if someone felt pain. The pain in nonphysical form that people got from so many things. Bad memories, sad events, or worse traumatic situations. We can felt that. And that's a sign that there's something wrong.
Then what will people do? Every people has different way to deal with "pain". Some will overcome it easily and get stronger, some will need longer time to deal with "pain" and finally enjoy the "pain" as the part of their lives, and some may need a very long time to deal with "pain". They even need to change their appearance, their behaviour and their habits to make them stronger and deal with the "pain". And sadly the rest of people can't deal with "pain". These group may and up with depression or even lose their sanity because they can't handle the pain that they suffered.
We can't avoid "pain", but we can choose which way we are gonna use to handle our "pains".
Sunday, June 5, 2016
Untuk siapa?
Kalau kamu bertanya pada seorang dokter umum atau koass apakah masih ada hal yang mereka ingin capai, maka saya yakin hampir sebagian besar dari mereka akan menjawab: "Saya ingin melanjutkan sekolah menjadi seorang dokter spesialis"
Mengapa begitu? Banyak alasan yang membuat seorang dokter di Indonesia untuk berpikir seperti itu. Alasan-alasan tersebut misalnya ingin meningkatkan kesejahteraan, ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, ingin mengaktualisasikan diri, ingin membahagiakan orang tua, dan lain-lain. Dari begitu banyak pilihan spesialisasi maka yang sejauh ini paling diminati adalah empat besar spesialisasi atau sering disebut dengan "mayor". Empat mayor tersebut yaitu Penyakit Dalam, Anak, Obgyn, dan Bedah. Keempat mayor ini begitu favorit karena mungkin karena keempat penyakit inilah yang paling sering ditemui sehari-hari. Selain itu juga keempat mayor inilah yang mungkin memiliki jumlah pasien terbanyak yang juga akan berpengaruh pada penghasilan.
Memang sejak awal masuk kedokteran dan memutuskan untuk menjadi seorang dokter kita tidak boleh berorientasi kepada uang. Karena kalau berorientasi kepada uang dan keuntungan lebih baik ambil jurusan lain saja seperti ekonomi atau menjadi seorang pengusaha. Tapi tak bisa kita pungkiri sebagai sebagai seorang manusia kita juga memiliki banyak sekali kebutuhan apalagi bila sudah berumah tangga tentunya ditambah kebutuhan rumah tangga dan anak.
Kewajiban seorang anak pun untuk memberikan sebagian penghasilan untuk orang tua pun tak bisa kita kesampingkan. Orang tua kita sudah mengeluarkan begitu banyak uang selama menyekolahkan anaknya menjadi seorang dokter dan di usianya yg sudah memasuki masa pensiun sudah kewajiban kita untuk membantu orang tua kita. Walaupun saya yakin tidak ada seorang orang tua pun yang mengharapkan balasan dari anak-anaknya.
Selain itu ada tanggung jawab moril lain yang harus kita ingat. Saudara-saudara kita di luar sana yang kurang beruntung tentunya membutuhkan uluran tangan kita. Ada hak fakir miskin dan anak yatim pada harta kita. Kesemua alasan tersebut mau tidak mau menuntut kita untuk berpenghasilan cukup. Bukan untuk diri kita saja tapi juga untuk menolong orang lain.
Kembali ke topik tadi. Menjadi seorang dokter spesialis adalah cita-cita yang sangat mulia. Tapi ada hal yang harus kita ingat bahwa kita harus menanyakan kembali pada hati kita bahwa ini adalah untuk kebaikan, untuk memberikan manfaat bagi orang banyak, dan bukan hanya untuk berorientasi pada kebutuhan ekonomi semata. Karena sesungguhnya manusia hidup haruslah bisa memberikan manfaat bagi orang lain.
Semoga saya, kamu, kita semua yang berencana melanjutkan sekolah diberikan jalan dan kemudahan dalam melanjutkan pendidikan kita. Semoga hati dan niat kita diluruskan sehingga kita diberikan mana yang terbaik untuk kita. Diberikan sesuatu yang sesuai dengan passion kita masing-masing dan memberikan banyak manfaat bagi orang banyak. Aamiin. Because when you choose a speciality in medicine then you'll live the rest of your life with it. So choose wisely. :)
Saturday, January 23, 2016
That warm feeling...
Hari itu malam mulai turun, waktu menunjukan pukul 18.10 WIB menandakan sudah masuk waktu Magrib. Saya berada di sebuah becak dalam perjalanan pulang dari sekolah. Saya pulang magrib hampir setiap hari dikarenakan siswa kelas dua di sekolah saya jadwal masuknya adalah siang hari dan baru pulang saat sore hari. Jarak tempuh sekolah dan rumah saya terbilang cukup jauh karena saya harus berjalan kaki dahulu untuk mencari angkot, kemudian disambung dengan naik angkot kira-kira sejam dan diakhiri dengan menaiki becak untuk sampai ke rumah saya. Karena itulah saya sering sekali pulang menjelang magrib atau saat magrib baru sampai di rumah.
Dengan seragam putih biru yang sudah mulai lusuh itu pun saya meneruskan perjalanan di atas becak. Kanan kiri perumahan sangat gelap karena masih banyak persawahan. Suara jangkrik dan serangga pun bersautan. Udara dingin dan menusuk. Sampai akhirnya becak mulai melintasi area perumahan yang berderet-deret saling berseberangan. Rumah saya cukup jauh karena terletak di blok paling ujung.
Tak lama sampailah becak yang saya naiki di rumah saya. Rumah paling kiri di tepi jalan utama. Suasana sekitar agak remang-remang karena memang penerangan sedikit di sekitar lingkungan kompleks perumahan saat itu. Terlihat sesosok pria berbadan cukup besar menggunakan kaos oblong dan sarung. Sosok tersebut membukakan pagar rumah dengan cekatan ketika melihat saya tiba. Sambil saya membayar uang ongkos becak, sosok tersebut menanyakan apakah uangnya cukup atau tidak. Saya bilang cukup. Setelah membayar saya bergegas masuk ke rumah dan menghampiri sosok tersebut.
Sosok tersebut tak lain dan tak bukan adalah Bapak saya. Saya segera mencium tangannya. Kami jarang berbicara panjang lebar tapi setiap melihat atau bersama dengan Bapak saya rasanya perasaan terasa hangat, rasanya aman bersama dengannya. Saya rindu dengan sosoknya yang tegas. Sosoknya yang hangat, walaupun kadang agak tempramental. Bapak saya orang yang supel dan pandai bergaul dengan orang lain. Saya pun baru menyadari betapa banyak kawan, rekan, dan saudara Bapak saya saat Bapak meninggal dunia sekitar 13 tahun yang lalu. Begitu banyak pelayat baik rekan ataupun handai taulan yang datang dari segala tempat.
Pa, kami semua merindukan Papa, tapi Allah lebih sayang dengan Papa. Semoga Papa diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin.